LOGIN DISINI CS: | Buku Tamu | Kontak
HP. 081 316 240 204 - (0265) 2353564 | Email. cs(at)batararayamedia.com

Cari Judul:


Kategori :    


Free Download RPP Berkarakter SD Terbaru 2011
       Ditulis pada hari Rabu, 28 Sepember 2011 | 00:03 WIB

Dengan Banyaknya Pengunjung yang Mencari Rpp Berkarakter SD 2011 Maka batararayamedia di sini memberikan Link Download yang Mudah mudahan Berguna untuk Pengunjung Sekalian Download Rpp Berkarakter SD Lengkap

Salam Sobat Berbagi yang selalu setia, Untuk kali ini Arena Berbagi mau bagi bagi File nih untuk RPP Berkarakter SD 2011 dan Mudah2an Berguna untuk para Pendidik semua.

“Munculnya ide dan gagasan program pendidikan berkarakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.”

 

”Perlukah Pendidikan Berkarakter?”

PEMERINTAH, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).


Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.
Bahkan, bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter.
Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.


Dalam bukunya, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (2010), Doni Koesoema Albertus menulis, bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan. Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan moral atau pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan karakter.


Tetapi, Doni yang meraih sarjana teologi di Universitas Gregoriana Roma Italia, agama tidak dapat dipakai sebagai pedoman pengatur dalam kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang plural. "Di zaman modern yang sangat multikultural ini, nilai-nilai agama tetap penting dipertahankan, namun tidak dapat dipakai sebagai dasar kokoh bagi kehidupan bersama dalam masyarakat. Jika nilai agama ini tetap dipaksakan dalam konteks masyarakat yang plural, yang terjadi adalah penindasan oleh kultur yang kuat pada mereka yang lemah," tulisnya.
Oleh karena itu, simpul Doni K. Albertus, meskipun pendidikan agama penting dalam membantu mengembangkan karakter individu, ia bukanlah fondasi yang efektif bagi suatu tata sosial yang stabil dalam masyarakat majemuk. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral akan bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun demikian, nilai-nilai moral, meskipun bisa menjadi dasar pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis yang bersifat dinamis dan dialogis.
Sebagai Muslim, kita tentu tidak sependapat dengan pandangan Doni K. Albertus semacam itu. Sebab, bagi Muslim, nilai-nilai Islam diyakini sebagai pembentuk karakter dan sekaligus bisa menjadi dasar nilai bagi masyarakat majemuk. Masyarakat Madinah yang dipimpin Nabi Muhamamd saw, berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, baik bagi pribadi Muslim maupun bagi masyarakat plural. Tentu kita memahami pengalaman sejarah keagamaan yang berbeda antara Katolik dengan Islam.
Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama bisa bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai agama lain bisa bertemu dalam penghormatan terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab, semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, bisa diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Bisa jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan karakter pada nilai agamanya masing-masing.


Terlepas dari perdebatan konsep-konsep pendidikan karakter, bangsa Indonesia memang memerlukan model pendidikan semacam ini. Sejumlah negara sudah mencobanya. Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan semacam ini. Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), – belum mencapai hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program itu! Padahal, program pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan keteladanan. Kalau hanya slogan dan ’omongan’, orang Indonesia dikenal jagonya!
Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus! Tapi, di lapangan, banyak yang bisa menyiasati bagaimana siswanya lulus semua. Sebab, itu tuntutan pejabat dan orangtua. Guru tidak berdaya. Kebijakan sertifikasi guru, bagus! Tapi, karena mental materialis dan malas sudah bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu sertifikat, bukan berburu ilmu! Bukan tidak mungkin, gagasan Pendidikan Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku seminar demi meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan tertentu.
*****
Mohammad Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”
Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak tempat sekolahnya.
Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah Shalat).
Kisah Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan di sekolah-sekolah dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang berkarakter dan bekerja keras untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang yang sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk meraih ilmu kemudian untuk mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat haus ilmu, lalu mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.
*****


Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis:
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya...”
Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir:
”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”
*****


Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada saya. Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk kekayaan, maka dia akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan sebagai investasi yang harus kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan pekerjaannya, tetapi karena berburu uang!
Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah “guru-guru sejati” yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.
Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat.
Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman.
Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan!

[Depok, Juni 2010/hidayatullah.com]



Kategori : RPP dan Silabus | Penulis : Administrator | Artikel ini telah dibaca 85107 kali

Kembali ke Artikel

Baca Juga Artikel dibawah ini :



Jejak-jejak komentar visitor yang menyimak artikel ini (Total : 17 komentar)

@ lia tri wahyuni : Kamis, 27 Oktober 2011 | 13:14 WIB | Kontak : lia.triwahyuni@yahoo.com
foto gmn cra dptin rpp b'karakter bwt sd khusus'y kls IV ?

@ soleman.leman : Minggu, 6 November 2011 | 08:16 WIB | Kontak : soleman40@rocketmail.com
foto harusnya lebih banyak lagi yang membuat spt ini, demi kemajuan negeri tercinta.

@ Admin Batara Raya Media : Senin, 7 November 2011 | 23:53 WIB | Kontak : www.batararayamedia.com
foto Amin... mudah-mudahan saja pak...

@ @sahnial siregar : Sabtu, 24 Desember 2011 | 16:44 WIB | Kontak : sahnialnialsiregar53@yahoo.com
foto bagaimana cara dapetin rppnya teman

@ Jamaris Online : Minggu, 25 Desember 2011 | 10:11 WIB | Kontak : http://jamarisonline.blogspot.com
foto Salam kenal sobat. Saya tidak menemukan link download RPP berkarakter SD disini. Mana yang free tersebut?

@ Administrator : Minggu, 25 Desember 2011 | 10:19 WIB | Kontak : www.batararayamedia.com
foto

Maaf Sobat sobat Batara Untuk Link Download RPP Berkarakter Free Gratisa Silahkan Ke Link  Ini Download RPP dan Silabus Berkarakter 


@ rismanto : Rabu, 8 Februari 2012 | 09:32 WIB | Kontak : rismanto.st_ys@yahoo.co.id
foto Salam kenal. Saya mencari RPP Arab Melayu berkarakter untuk SD tapi tidak saya temukan. Bagaimana agar saya dapat mendownload RPP Arab Melayu tersebut.tetima kasih.

@ sosrojoyo : Selasa, 28 Februari 2012 | 22:56 WIB | Kontak : http://www.sosrojoyo.com
foto salam kebersamaan... semoga lancar ya mas bos...

@ indra kuuipo : Jumat, 2 Maret 2012 | 20:32 WIB | Kontak : gampangenak@yahoo.com
foto ...mks.....

@ tabrani : Minggu, 17 Juni 2012 | 19:50 WIB | Kontak : ranitab@ymail.com
foto pokok pertama, gurunya dulu harus punya karakter: kepedulian yang tinggi thdp peserta didik, ikhlas mengajar, mengajar sambil beramal,menabung untuk akhherat.

@ diaz lexferguzon : Rabu, 20 Juni 2012 | 22:20 WIB | Kontak : 081241702003
foto Maaf, gimana cara dowloadnya.?

@ Muhammad Yusuf Arjuna : Kamis, 28 Juni 2012 | 13:36 WIB | Kontak : yusuf.arjuna2012@gmail.com
foto saya guru mapel Bahasa jawa dan KPDL. butuh Silabus, RPP, dan Program pembelajaran. di mana saya harus mendownload. mohon petunjuk. atau langsung kirim ke email saya. terima kasih atas bantuannya

@ sarjiyanto : Rabu, 8 Agustus 2012 | 06:52 WIB | Kontak : o81575112131,sdnsambung2@gmail.com
foto saya KEPALA SD membutuhkan RPP berkarakter dan silabus semua mapel guru kelas,dimana dapat saya download, mohon bantuan atau langsung kirim pada email sekolah,

@ hartono bajara : Senin, 10 Sepember 2012 | 22:03 WIB | Kontak : 081330269093
foto tidak terlambat ,memberikan karakter pada siswa kita karena siswa kita adalah ladang emas untuk membenahi buruknya karakter pemimpin negeri ini

@ sri kuntari : Jumat, 5 Oktober 2012 | 13:02 WIB | Kontak : o81311182915, kuntari9@yahoo.co.id
foto bagus bgt tulisannya, bisa jd motifator sy dlm mengajar dan mendidik anak2...

@ Muslimin : Selasa, 25 Desember 2012 | 11:43 WIB | Kontak : mimien_mappe@yahoo.com
foto artikel bagus banget, semoga menjadi motivator bagi kami dan semua guru yang peduli pendidikan karakter anak

@ M . Andi : Sabtu, 11 Mei 2013 | 21:36 WIB | Kontak : 085345587259
foto Pendidikan berkerakter bukan barang baru, tetapi merupakan barang yang sudah lama dikenal namun belum dapat dijalankan dengan benar.



* Silahkan berikan komentar anda seputar artikel yang kami sajikan di atas.

Nama Lengkap :

Kontak (No.HP, Email atau URL) :

Komentar (max. 250 karakter) :


Masukkan Jumlah :

 


 



   
   


Info Kontak
Alamat :
Komplek Perumahan Batara Indah Blok T No.8 Kota Tasikmalaya

HP : Telpon / SMS
081 316 240 204 - (0265) 2353564

Jam Layanan:
Senin - Sabtu : 08.00 WIB - 20.00 WIB | Minggu/ Libur: Tutup



Keyword Banyak Dicari :

menentukan kkm ipa smp, peraturan pemerintah tentang pembuatan website, betara raya media, pertanyaan untuk wawancara kapada kepala sekolah, cerita liburan menggunakan bahasa inggris, cara merakit mesin dtg, rpp pak smp kls 8, suara media sejahtera, batara raya media cari, contoh pendahuluan laporan beasiswa kurang mampu, website batara, jasa buat website, contoh anjab guru.doc, harga pembuatan website, buat web sekolah, contoh biodata pramuka, contoh soal mata kuliah profesi keguruan, artikel narkoba powerpoint, rpp btq berkarakter smp, contoh alat pembelajaran fiqih mts, program semester aqidah mts, download lks mm kelas 8, kumpulan soal ujian sertifikasi guru smp ips ekonomi filetype;doc, download contoh laporan penelitian tindakan kelas tingkat ra, isian bahasa inggris, Website Sekolah, Pembuatan website Sekolah, jasa pembuatan web, Seputar Harga,Yamaha R25 & R15,Yamaha Vixion jasa pembuatan web Sekolah, prediksi soal cpns 2013 Gratisan



Persyaratan Untuk Web Sekolah

• Domain yang digunakan adalah .SCH.ID,
• Surat Permohonan Kepala Sekolah : Download
• Surat Kuasa dari Kepala Sekolah : Download
• Scan KTP Kepala Sekolah

• Kirim via Email

 


Artikel Terbaru :

Artikel Sering Dibaca :


    DEMO SAMPLE:
    WEB PROFIL SEKOLAH
    « KLIK DISINI »


    QR-Code Batara Raya Media :